Sabtu, 31 Januari 2015

Cerita Cinta Islami Mengharukan

Cuma Bisa Berharap

“Terima kasih Ya Allah karena masih memberiku kesempatan melihat sang bintang harapan di tiap pagiku. Dan untukmu penjajah hatiku, selamat pagi.”
Begitu biasa Amira memulai harinya di tiap pagi sebelum beraktifitas. Dua kalimat di awal rutinitas harinya itu telah menjadi suatu hal yang hampir tak pernah dia lupakan semenjak lima tahun terakhir. Seperti itu pula dengan hari ini.
Baginya, tiap hari terasa indah. Penuh dengan harapan dan optimisme. Kenapa? Karena ada dia.Karena ada cinta dihatinya. Tunu, sang penjajah hatinya. Lelaki itu telah menjadi pangeran dalam hatinya selama hampir lima tahun ini. Sosoknya seperti telah begitu menyatu dalam jiwanya hingga dia tak bisa lagi berpaling pada lelaki lain. Bagi Amira, Tunu adalah seorang lelaki yang luar biasa. Tunu adalah instrumen terpenting dalam hidupnya.
Konyol sekali kedengarannya. Tapi begitulah dia mencintainya, mencintai Tunu. Ah bukan, menggilainya tepatnya. Amira tak peduli jikapun orang menganggapnya bodoh karena cinta itu. Dia hanya senang seperti itu. Dan selama hampir empat tahun terakhir, Siti lah yang tahu kegilaan Amira itu. Siti adalah sahabatnya sejak dia masuk kuliah hingga mereka baru saja lulus kuliah saat ini. Meski begitu, Siti tak pernah tahu lelaki mana yang sebenarnya dicintai sahabatnya selama ini. Ia hanya tahu kalau Amira mencintai seorang lelaki bernama Tunu. Itu pun entah pasti atau tidak.
“Kau melamun? Dia lagi?” tiba-tiba Siti menepuk pundak Amira, membangunkan ia dari lamunannya yang sedang berpetualang ke negeri antah berantah, mencari sesosok pangeran yang ia rindukan. Siti lalu duduk di samping Amira sambil memperhatikan orang lalu-lalang di taman kota. Hari minggu pagi memang jadwal rutin mereka pergi ke taman kota.
“Hah, kau tanya apa Ti?” Amira melongo.
“Emm benar tebakanku! Sampai kapan Tunu akan membuatmu seperti ini?!” ujarnya.
“Seperti ini? Memangnya aku kenapa? Aku baik-baik saja.”
“Yah, mudah-mudahan memang benar kau tak apa-apa. Jangan sampai gara-gara dia, kau menutup mata dari kenyataan.”
“Maksudnya?” Tanya Dinara heran.
“Iya, bukankah kenyataannya kalian memang tidak pernah ada hubungan apa-apa? Dan entah perasaan seperti apa yang membuatmu begitu menggilainya. Cinta, penasaran, atau hanya obsesi?”
Jleb. Hati Amira bergetar mendengar perkataan Siti itu. Ia tidak tau kenapa, ada rasa sakit yang mengiris hatinya. Ia ingin menangis mendengarnya. Tapi, sebisa mungkin ia mencoba untuk tidak meneteskan air mata. Pilu rasanya.
“Ra, kamu baik-baik saja?” Siti menatap Amira dengan raut khawatir.
“Mmh. Iya.” Amira mengangguk. Tapi ia bohong. Hatinya sama sekali tidak baik. Baginya perkataan Siti itu adalah suatu pukulan maha dahsyat yang langsung menyadarkannya akan suatu ketidakpastian.
Batinnya menangis. Menyedihkan sekali rasanya. Benar kali ini ia terluka. Ini kenyataan. Siti telah membangunkannya dari mimpi-mimpi itu. Tapi, Amira tidak bisa jujur pada dirinya sendiri. Amira tidak ingin mengiyakan apa yang telah Siti katakan.
Lima tahun mencintai Tunu dengan caranya sendiri rasanya cukup membuat ia hampir gila. Tapi, Amira sangat menyenangi kegilaannya itu. Ia tak bisa dengan mudah kembali sadar dan melepaskan cintanya.
Amira hanya diam. Tak sepatah katapun keluar dari bibirnya yang kelu itu. Ia hanya sedang berpikir saat ini. Berpikir tentang kata-kata Siti tadi. Berpikir tentang dirinya, Tunu dan perasaannya. Dan juga berpikir tentang sahabatnya itu, Sitii.
- Kenapa Siti bisa berkata dan berpikir seperti itu? Kenapa baru sekarang dia berkomentar seperti itu setelah beberapa lama kami bersama? Apa dia telah begitu jengah dengan kegilaanku itu hingga dia bepikir seperti itu? Atau apakah memang cintaku pada Tunu begitu salah di matanya? Kenapa? -
Amira merasa heran pada sahabatnya itu. Batinnya terus bertanya-tanya. Amira merasa tak ada yang salah dengan perasaannya pada Tunu. Ia hanya ingin mencintai seseorang seperti itu. Ia hanya ingin jadi seorang Amira yang dengan segenap cinta dan doanya berhasil menjaga hatinya hanya untuk seorang Tunu saja.
- Lalu kenapa Siti membuatku terlihat begitu menyedihkan? Hei, aku tak pernah merugikan siapapun dengan perasaanku itu. Pun aku tak pernah merasa dirugikan sedikitpun oleh cintaku itu. Lagipula, aku yakin Tunu tak pernah keberatan dengan keberadaan hatiku yang tak pernah menjamahnya sedikitpun. Tak pernah pula aku berusaha menyentuh hati. Aku hanya mencintainya dari sudut terindah yang bisa kurasa, dengan tetap membiarkan Tunu aman dan nyaman dalam dunianya sendiri. Lalu, apa yang salah? -
Aah, Amira tidak bisa berpikir terlalu banyak lagi. Hatinya masih ngilu. Mungkin Siti hanya terlalu sayang padanya. Iya mungkin begitu.
Satu hari, dua hari, tiga hari, beberapa hari berlalu. Hari-hari Amira berlalu seperti biasa. Tapi, hari-harinya jadi terasa menjemukan sekarang. Entah kenapa. Ia merasa kehilangan sedikit kebebasan untuk merasakan dalam-dalam getaran cintanya pada Tunu. Yah, semenjak Siti melontarkan "unek-uneknya" tentang kegilaannya itu, Amira merasa sedikitnya ada yang membatasi kebebasannya. Tapi, mungkin saja Siti benar.
Ia sama sekali tak marah pada sahabatnya itu. Tidak. Sungguh. Ia hanya merasa perlu waktu yang lama – entah seberapa lama – untuk mencerna perkataan Siti lalu kemudian memahaminya. Amira merasa apa yang dikatakan Siti memang benar, yakni antara dia dan Tunu tak sedikitpun ada hubungan apa-apa, tapi apakah salah jika ia mencintai Tunu dengan caranya sendiri? Hanya itu.
To be only yours, I pray, To be only yours… I know now you’re my only hope
Suara merdu Mandy Moore melengking indah dari ponsel Amira. Nada dering untuk panggilan masuk. Amira membuka flap ponselnya.
“Ra.. hallo.. kau baik-baik saja?”
“Hallo.. assalamualaikum Siti. Tak biasanya kau menelpon. Ada apa?”
“Eh, waalaikumsalam. Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin tanya, apa kau sudah melupakannya?”
Deg. Apa? Apa yang baru saja Siti tanyakan? Amira benar-benar kaget mendengarnya. Sungguh. Tak semudah itu melupakannya, Siti. Amira berkata-kata dalam hatinya.Belum sempat ia menjawab, Siti sudah nyerocos di ujung sana.
“Kau harus melupakannya. Sudah cukup Ra. Cinta itu bisa merusakmu, melenakanmu. Kau harus melupakannya. Ah, Ya Allah. Bagaimana caranya menghentikanmu? Apa sesulit itu? Sungguh. Kumohon lupakan dia. Kau harus memulai semuanya dari awal. Bukalah mata dan hatimu Ra. Lupakan dia.”
- Ya Allah. Kenapa Siti bersikap seperti itu? Kenapa? Apa dia tak tahu kalau yang ia katakan membuatku sakit. Benar-benar membuatku sakit. Sungguh. Tak semudah itu. -
“Hallo.. Ra? Kau masih di sana? Kau baik-baik saja?”
“Mmh. Aku akan mencobanya.” Amira menjawab sekenanya.
“Bagus. Aku selalu ada untukmu. Sudah ya. Assalamualaikum.”
Tut. Sambungan terputus. Waalaikumsalam. Amira mendesah pelan. Ia masih memegang ponselnya. Lagi-lagi dia merasa sulit untuk mencerna dan kemudian memahami apa yang sudah Siti katakan barusan. Selalu begitu. Logikanya selalu berfungsi lebih lambat dibandingkan perasaannya. Ia hanya bisa meneteskan air mata. Rasa sakit – tentu saja rasa sakit yang diakibatkan oleh perkataan Siti tempo lalu – yang sudah hampir bisa ia lupakan, kini kembali hinggap di hatinya.
- Ya Allah.. apa selama ini aku terlihat seperti orang tak waras? Kenapa Siti bersikeras bersikap seperti itu? Apa dia sudah benar-benar jengah melihat kegilaanku itu? Ya Allah.. apa yang salah dari semua yang aku rasakan selama ini? Dan apa? Siti berkata kalau cinta ini bisa merusakku, melenakanku? Tidak. Sama sekali tidak. Cinta ini justru menguatkanku. Mengubahku menjadi lebih baik. Memberiku harapan di setiap hariku. Memberiku nafas untuk tetap bertahan dalam kesendirian. Memberiku semangat dalam menghadapi berbagai masalah hidup. Dan yang terpenting, cinta ini selalu mendekatkanku pada-Mu. Ya Allah.. apa Siti tak tahu semua itu? Melupakan Tunu bukanlah hal yang mudah dan memang bukan hal yang aku inginkan. Tidak sama sekali. -
Pandangan Amira kabur. Ia bukan hanya meneteskan air mata, tapi menangis sesenggukan. Ia memegang dadanya. Ada yang sakit di sana. Benar-benar sakit. Ia melangkah menuju meja belajarnya. Ia lalu membuka tas yang tergeletak di sana. Direngkuhnya sebuah sapu tangan kotak-kotak biru muda. Ada tulisan kecil di salah satu sudutnya. Tunu.
- Apakah aku benar-benar harus melepaskan semua perasaanku padamu? Apakah aku tak boleh lagi mencintaimu – meski pastinya kau tak pernah tahu hal itu? Apakah aku harus mengubur dalam-dalam semua harapanku tentangmu? Tapi,aku benar-benar ingin bertemu denganmu. Aku hanya ingin bertemu denganmu. Meski hanya untuk satu kali lagi. Meski hanya untuk beberapa detik saja. Itu tak apa. Sungguh. Aku hanya ingin berterima kasih padamu, Tunu. Berterima kasih untuk semuanya. Ya. Aku belum sempat melakukan itu. -
Amira bergumam lirih sendirian. Didekapnya sapu tangan itu erat-erat. Lalu, pikirannya beralih ke suatu malam, lima tahun silam. Saat ia masih berusia tujuh belas tahun. Saat ketika ia belum seperti sekarang. Saat dimana satu hal berhasil mengubah hidupnya.
Saat itu, Amira tengah berjalan sendirian ketika seorang om-om mencoba merayunya untuk ikut bersamanya. Bagaimanalah om-om itu tidak bersikap demikian, penampilan Amira saat itu lebih mirip dengan wanita malam. Ditambah pula ia berjalan sendirian di kala malam telah sepenuhnya pekat. Mana ada wanita baik-baik keluyuran tengah malam dengan penampilan seperti itu coba?
Amira mati-matian menolak – karena memang dia toh bukan wanita malam yang dikira om-om itu -, sementara si om-om mati-matian memaksanya. Amira berteriak meminta tolong. Dan di saat itu, seorang pemuda – yang entah kebetulan lewat atau memang telah sengaja dikirim Tuhan – mendekati Amira yang sedang berusaha melepaskan diri dari si om-om.
“Tolong lepaskan dia Pak. Dia ini adik saya. Dia wanita baik-baik dan bukan wanita seperti yang Bapak kira. Sungguh Pak, dia wanita baik-baik. Hanya saja, dia belum cukup dewasa. Tolong jangan ganggu dia Pak. Bapak akan menyesal jika melakukannya.” Pemuda itu berkata dengan nada memohon pada si om-om. Si om-om yang entah kenapa merasa percaya dengan yang dikatakan pemuda itu langsung melepaskan Dinara. Ia bergegas meninggalkan tempat itu sambil bersungut-sungut, “Urus adikmu itu. Mungkin lain kali ia tak akan selamat jika masih seperti itu.” Pemuda itu hanya mengangguk.
Suasana malam itu begitu sunyi dan lengang. Amira yang merasa shock dengan kejadian itu menangis sesenggukan di tepi jalan. Pemuda itu menghampirinya dan mengeluarkan sehelai sapu tangan dari dalam saku celananya dan mencoba menenangkan. Dia kemudian membawa Amira ke dalam mobilnya dan mengantarkan Amira pulang. Ia lalu menanyakan alamat gadis itu. Tak berapa lama, mobil pemuda itu sampai di depan sebuah rumah mewah. Rumah Amira. Mereka berdua lalu turun dari mobil itu.
“Aku bukan wanita seperti itu.” Ujar Amira yang masih menangis.
“Om-om tadi atau pria manapun pasti tidak akan berani mengganggumu jika kau tak keluyuran tengah malam begini dan penampilanmu tak seperti itu. Tapi, aku percaya kau wanita baik-baik. Sungguh.” Pemuda itu kembali ke mobilnya. Meninggalkan Amira yang masih terpaku. Mobilnya melesat menjauh dari hadapan Amira.
Amira tersadar. Dia melihat sekeliling dan mendapati ia sendirian disana. Lalu, dia melihat sapu tangan di genggaman tangannya. Sapu tangan kotak-kotak biru muda. Pandangannya tertuju pada tulisan yang dijahit dengan benang hitam di salah satu sudut sapu tangan itu. Tunu. Hatinya berdesir halus ketika mengingat pemuda yang baru saja menolongnya itu. Pemuda baik hati yang sama sekali tak dikenalnya.
Sejak saat itu, Amira berubah. Gaya hidupnya, penampilannya, tingkah lakunya, tutur katanya, pemikirannya. Semuanya berubah menjadi lebih baik. Sungguh, kekuatan cinta yang begitu indah. Bertahun-tahun ia selalu berharap suatu saat bisa bertemu kembali dengan pemuda yang telah menyelamatkan hidupnya itu. Ia selalu ingat kalau ia belum sempat berterima kasih pada pemuda itu, hingga saat ini.
To be only yours, I pray, To be only yours… I know now you’re my only hope
Panggilan masuk. Bayangan masa lalu itu kemudian memudar. Amira menyeka air matanya. Lalu ia membuka flap ponselnya.
“Assalamualaikum Siti. Kenapa lagi?”
“Waalaikumsalam. Aku lupa memberitahumu Ra. Minggu depan, datanglah ke rumahku. Ada syukuran. Oya, aku akan mengenalkanmu pada seseorang. Seseorang yang sangat aku sayangi.Emm kau pasti menyukainya. Ah hati-hati, kau bisa mencintainya. hehe”
“Kenapa?”
“Ya, karena dia memang pantas disukai, dicintai. Sudah ya. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Amira menghela nafas. Akhir-akhir ini ia lebih sering menghela nafas. Entah kenapa. Tiba-tiba ia teringat percakapannya dengan Siti barusan.
- Mengenalkanku pada seseorang yang sangat ia sayangi? Menyukainya? Mencintainya? Siapa? Syukuran? Ah, iya. Jangan-jangan Siti akan dilamar. Seseorang yang ia maksud adalah calonnya barangkali. Iya. Begitu sepertinya. Tapi, kenapa dia tak pernah bercerita sebelumnya padaku? Ah, sahabat macam apa aku ini? Aku sama sekali tak tahu apa yang terjadi dalam kehidupan Siti selama ini. Mungkin, karena aku terlalu sibuk dengan kegilaanku itu. Ya Allah.. Siti, maafkan aku. -
Seminggu berlalu begitu cepat. Tapi, bagi Amira waktu jadi terasa begitu lambat. Itu karena perasaannya sedang begitu tak menentu. Yah, begitulah.
Amira sudah sampai di depan rumah Siti. Banyak mobil berjejer disana. Sepertinya, semua keluarga besar Siti sedang berkumpul untuk acara syukuran itu.
Amira melangkah masuk ke rumah besar itu. Pandangannya langsung tertuju ke dalam rumah. Banyak orang di dalam sana. Dan, Ya Allah.. jantung Amira hampir berhenti berdetak. Nafasnya tiba-tiba sesak. Ia melihat Siti di sofa ruang tamu. Tapi, perhatiannya bukan tertuju pada sahabatnya itu, melainkan pemuda tampan di samping Siti. Pemuda itu, Amira yakin pernah melihatnya. Ya, bagaimana mungkin ia lupa? Tapi, kenapa pemuda itu ada di sini? Dan.. dan.. pemuda itu terlihat begitu dekat dengan Siti. Apa mungkin? Amira tiba-tiba langsung memegang dadanya. Ada yang menggerogoti hatinya lagi. Dan kali ini lebih sakit dari sebelumnya.
- Bagaimana mungkin seperti ini Ya Allah? Kenapa harus Siti? Kenapa Siti harus bersama Tunu? Dan, mereka terlihat benar-benar akrab. Mereka sedang bercanda. Siti tersenyum, tertawa. Itu sempurna ekspresi bahagia dari Siti. Bagaimana mungkin? Ya Allah. -
Amira masih mematung di depan pintu. Kakinya lumpuh seketika. Matanya perih. Sungguh perih. Tapi, bagaimanalah ia akan menangis di saat seperti itu? Beribu pertanyaan menyesaki benaknya satu per satu.
- Apakah ada yang pernah merasakan ketika senyuman orang lain nyatanya justru membawa luka di hati kita? Aku pernah. Apakah ada yang pernah merasakan ketika tawa orang lain tak sadar justru membuat air mata kita terjatuh? Aku pernah. Apakah ada yang pernah merasakan ketika kebahagiaan orang lain sebenarnya tidak – sama sekali tidak-membuat hati kita bahagia juga? Aku pernah. Ya. Aku pernah merasakan itu semua. Di sini. Saat ini. Entah perasaan macam apa namanya. Yang jelas, ini sungguh menyakitkan. -
“Amira.. kau sudah datang? Ayo sini.” Suara Siti tiba-tiba menyadarkan Amira yang sedang terpaku. Sitti menghampiri Amira dan membawanya masuk. Entah kenapa, Amira merasa sulit untuk melangkahkan kakinya. Dengan enggan akhirnya ia menapakkan kakinya selangkah demi selangkah.Mereka lalu duduk tepat di hadapan pemuda itu. Pemuda itu tersenyum manis pada Amira. Hati Amira semakin ngilu.
“Bagaimana, kau menyukainya bukan?” ujar Siti sambil menepuk pundak Amira. Amira tak berani menjawabnya. Andai saja Siti tahu, pemuda itu adalah pangeran hatinya selama lima tahun ini.
“Bagaimana, kau menyukainya bukan?” Siti melontarkan kembali pertanyaan yang sama. Namun, kali ini bukan pada Amira. Melainkan pada pemuda di hadapannya. Pemuda itu hanya tersenyum. Wajahnya memerah. Amira masih tak mengerti.
“Namanya Rida Lenggana. Dia saudara sepupuku. Ah, kau pasti tak ingat? Ya, mana mungkin. Selama ini kau sibuk dengan Tunu mu itu. Bukankah aku pernah menceritakannya padamu beberapa kali? Rida, saudara sepupuku yang sejak lima tahun lalu kuliah di Turki dan sudah punya pekerjaan tetap di sana. Ya ampun Ra, kau benar-benar tak pernah mendengarkan ceritaku sepertinya.”
Seperti biasa, Siti nyerocos tanpa memperhatikan respon si pendengar. Sementara itu, Amira merasa tak percaya dengan apa yang didengarnya. Dia masih juga tak bersuara.
- Sepupu? Bukan calon suami? Ya ampun, kenapa aku begitu cepat menyimpulkan? -
“Kau tahu Ra? Aku sangat menyayanginya. Dia lelaki baik dan pantas mendapatkan yang baik pula. Dulu dia pernah menyukai seorang wanita yang ditemuinya suatu malam di jalan kota. Dia bilang dia tak bisa melupakan gadisitu. Tapi, untunglah Rida tak sepertimu yang sulit sekali melupakan Tunu. Dia langsung menyukaimu ketika pertama kali aku menunjukkan fotomu empat tahun lalu. Dia semakin menyukaimu sewaktu aku bercerita banyak tentang kau. Setiap kami berkomunikasi, dia selalu menanyakan kabarmu dan memintaku bercerita tentangmu, semua hal tentangmu. Tapi, dia melarangku memberitahumu. Dia ingin agar kau tetap seperti itu, menggilai Tunu. Dia tak ingin mengusik kegilaanmu itu katanya. Tapi sewaktu dia pulang dari Turki minggu lalu, dia akhirnya memintaku untuk mengenalkanmu langsung padanya. Karena itu aku bersikeras menginginkan kau melupakan Tunu. Aku pikir, kau pasti akan menyukai sepupuku ini. Kalian sangat cocok.”
Amira masih diam. Tapi, kali ini rasa sakitnya berangsur hilang. Tergantikan oleh perasaan yang entah apa namanya. Bahagia, terharu dan apalah itu. Yang ia pikirkan hanyalah bagaimana mungkin ini terjadi? Sementara itu, pemuda di hadapannya bersemu merah.
“Aku suka nama Tunu. Aku ingin dipanggil begitu. Sungguh. Ah, tapi tak ada yang tahu hal itu. Semua orang malah memanggilku Rida.” Pemuda itu terdiam sesaat. Lalu dengan terbata ia melanjutkan. “Emm.. Apa.. apa kau mau ikut bersamaku ke Turki? Tentunya, setelah kita menikah di sini.” Pemuda bernama Rida Lenggana itu baru saja mengucapkan kata-kata yang sudah lama ingin ia sampaikan pada gadis dihadapannya. Gadis yang sudah ia sukai sejak pertama kali bertemu lima tahun lalu di suatu malam ketika ia menikmati malam terakhir di kota kelahirannya sebelum ia berangkat ke Turki. Perasaan lega, cemas dan bahagia bercampur aduk di hatinya.
Amira tak kuasa menahan air matanya terjatuh kali ini. Biarlah semua orang melihat ia menangis saat ini. Karena toh selama ini tak ada yang tahu bagaimana ia menangis dalam kesendiriannya, bagaimana ia menangis menahan semua perasaannya, bagaimana ia menangis di setiap harapan yang ia panjatkan dalam doa-doanya. Biarlah.
Amira mengeluarkan sapu tangan kotak-kotak biru muda bertuliskan nama Tunu – yang selalu ia bawa kemanapun – dari tas tangannya. Sambil mengangguk ia berikan sapu tangan itu pada pemiliknya. “Terima kasih, untuk semuanya.” Ujarnya lirih sambil berurai air mata. Pemuda itu tersenyum saat menerima kembali sapu tangan miliknya.
Siti melongo melihat pemandangan di hadapannya. “Ya ampun, jadi selama ini?”

Dan ketika harapan yang kita panjatkan dalam setiap doa-doa kita tak langsung dijawab-Nya dengan kata Ya atau Tidak, maka sesungguhnya Ia menjawab, “Tunggu, Aku akan berikan yang terbaik untukmu pada waktunya.”